PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan menurut Fred E. Fielder dan Martin M. Chemars adalah sutu proses mempengaruhi aktivitas kelompok dalam rangka perumusan dan pencapaian tujuani. Sementara menurut Ralph Stogdil yang dikutip dalam bukunya Handbook of Leaderdhip menjelaskan macam-macam arti kepemimpinan sebagai berikut:
- Kepemimpinan sebagai suatu seni untuk menciptakan kesesuaian paham ( Leadership as the art of including complience )
- Kepemimpinan sebagai suatu bentuk persuasi dan inspirasi ( Leadership as a form of persuation ) yang menekankan kemampuan mempengaruhi orang lain dengan jalan himbauan dan persuasi, bukan melalui paksaan.
- Kepemimpinan adalah suatu kepribadian yang memiliki pengaruh ( Leadership is personality and its effect) yang dapat diartikan sebagai sifat-sifat dan watak yang dimiliki oleh pemimpin, yang menunjukan keunggulan sehingga menyebabkan pemimpin tersebut memiliki pengaruh terhadap orang lain.
- Kepemimpinan adalah tindakan dan perilaku ( Leadership is act or behavior )
- Kepemimpinan merupakan titik sentral kegiatan kelompok ( Leadership is a focus of group precesses )
- Kepemimpinan merupakan hubungan kekuasaan dan kekuatan(Leadership is a power relation )
- Kepemimpinan sebagai sarana pencapaian tujuan ( Leadership as instrumen of goal achievement )
- Kepemimpinan merupakan hasil dari interaksi ( Leadership is an efect of interaction )
- Kepemimpinan adalah peranan yang dibedakan ( Ledership is adiferentiated role )
- Kepemimpinan adalah sebagai inisiasi struktur ( Leadership is the initiation of structure )
Menurut Paul Hersey dan Kenneth H. Balnchard di dalam bukunya yang berjudul Management of Organizational Behavior, yang mengutip beberapa pendapat dari para ahli yang dikutip lagi oleh Wahyu Sumardjo dalam bukunya Kepemimpinan dan Motivasi seperti George P. Terry yang mengartikan kepemimpinan sebagai kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok, juga dari Robet Tenembaun, Irving R, Wishcler, Fred Massarik mengemukakan bahwa kepemimpinan sebagai pengaruh antar pribadi yang terjadi pada suatu keadaan dan diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah tercapainya suatu tujuan ataupun tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan. Kemudian pengertian kepemimpinan dari Harold Koonts and Cyril O’Donnell dengan upaya mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan.
Perbedaan mengenai definisi kepemimpinan dapat terjadi karena perbedaan konsep dasar yang dipergunakan dalam mendefinisikan, seperti Katz dan Kahn menyatakan hakikat dan arti kepemimpina itu didasarkan atas tiga komponen pokok yaitu (1) ciri atau sifat (attribute) suatu lembaga, (2) tabiat atau watak seseorang, dan (3) katagori tingkah laku aktual.
Disamping kedudukannya yang strategis, kepemimpinan mutlak diperlukan, dimana terjadi interaksi kerjasama atara dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan organisasi. Itulah sebabnya dikatakan orang bahwa kepemimpinan merupakan gejala sosial dan kontrak sosial yang selalu diperlukan dalam kehidupan berkelompok. Bahkan Al-Qur’an menyebutkan kepemimpinan adalah merupakan perjanjian antara Tuhan dan manusia (pemimpin) itu untuk mengemban sutu amanah tertentu. Dan esensi dan kepemimpinan menurut H. Blanchard adalah tercapainya tujuan kerjasama kelompok.
Demikian pandangan dan pendapat mengenai arti, batasan dan definisi kepemimpinan. Dari berbagai pendapat tersebut memberikan gambaran bahwa kepemimpinan dilihat dari sudut pendekatan apapun mempunyai universalitas yang mutlak diperlukan.
Butir-butir pengertian dari definisi-definisi itu pada hakikatnya memberikan makna:
- Kepemimpinan adalah sesuatu yang melekat pada diri seorang pemimpin berupa sifat-sifat tertentu seperti: kepribadian (personality), kemampuan (ability), dan kesanggupan (capability)
- Kepemimpinan adalah serangkaian kegiatan (activity) pemimpin yang tidak dapat dipisahkan dari kedudukan serta gaya atau perilaku pemimpin itu sendiri.
- Kepemimpinan sebagai proses interaksi antara pemimpin dan bawahan dengan situasi tertentu.
Ditinjau dari sejarah perkembangannya terdapat tiga konsep dasar mengenai kepemimpinan seperti yang dikemukakan oleh Drs. Ngalim Purwanto yaitu :
- Suatu konsep yang menganggap bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang berupa sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang ada pada diri seorang pemimpin. Jadi menurut konsep ini seseorang dapat menjadi pemimpin karena ia terlahir untuk menjadi pemimpin.
- Kepemimpinan dipandang sebagai fungsi kelompok yang mana keberhasilan kelompok tidak hanya ditentukan oleh pemimpinnya saja, tetapi juga dipengaruhi oleh sifat dan ciri dari kelompok itu.
- Kepemimpinan dipandang sebagai suatu fungsi dari situasi yang tidak hanya didasari atas pandangan yang bersifat psikologis dan sosiologis. Situasi ini dapat berupa keadaan politik.
Sementara bila ditinjau dari segi fungsionalnya maka pengertian kepemimpinan menurut Prayudi Atmosudirdjo adalah :
- Kepemimpinan dapat rumuskan sebagai suatu kepribadian (personality) seseorang yang mendatangkan keinginan pada kelompok orang-orang untuk mencontoh dan mengikuti.
- Kepemimpinan dapat dipandang sebagai penyebab dari kegiatan-kegiatan, proses, atau kesediaan untuk mengubah pandangan atau sikap dari sekelompok orang.
- Kepemimpinan adalah suatu seni ( Art ), keanggupa ( ability ) atau tekhnik ( technicue ) untuk membuat suatu kelompok dalam organisasi informal untuk mengikuti segala apa yang di kehendaki
- Kepemimpinan dapat juga dipandang sebagai suatu bentuk persuasi seni pembinaaan kelompok orang-orang tertentu.
- Kepemimpinan dapat juga dipandang sebagai suatu sarana, suatu instrumen atau alat untuk membuat sekelompok orang mau bekerja sama dan berdaya upaya menaati segala peraturan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Jadi secara umum kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu proses dalam mempengaruhi kegiatan-kegiatan seseorang atau kelompok dalam usahanya mencapai tujuan didalam situasi tertentu.
TIPE - TIPE KEPEMIMPINAN
Bertolak dari pemahaman kepemimpinan sebagai suatu interaksi antara dua orang atau lebih yang mana setiap individu mempunyai ciri-ciri dan sifat tertentu, maka pemimpin adalah individu yang tidak lepas dari ciri dan sifat itu. Sehingga dapat berimplikasi pada corak kepemimpinannya itu. Oleh karena itu ada beberapa tipologi kepemimpinan yang secara umum dibagi menjadi lima kelompok yaitu :
- Kepemimpinan Otokratis
Tipe kepemimpinan yang cenderung bertindak sendiri dan cenderung diktator terhadap anggotanya. Dan penafsirannya sebagai pemimpin adalah menggerakan dan memaksa kelompok. Di lain pihak kewajiban bawahan adalah mengikuti dan menjalankan perintah dan tidak boleh mengajukan saran serta membantah. Dalam memelihara hubungan dengan bawahan biasanya menggunakan pendekatan formal berdasarkan kedudukannya dan status bawahan itu. Seorang pemimpin yang otokratis cenderung berorientasi pada kekuasaan.
- Kepemimpinan Laizez Faire
Tipe kepemimpinan ini diartikan sebagai membiarkan orang-orang berbuat sekehendaknya, ia tidak memberikan kontrol dan koreksi terhadap anggotanya. Keberhasillan kepemimpinan tipe ini semata-mata karena kesadaran dan dedikasi anggotanya. Titik tolak pemikiran tipe kepemimpinan ini terletak pada apabila pada organisasi terdapat hubungan yang intim antara pemimpin dan anggotanya maka dengan sendirinya para bawahan akan terdorong kesadaran tanggung jawab
- Kepemimpinan Demokratis
Tipe kepemimpinan ini tercermindari diikutsertakannya seluruh komponen dalam setiap pengambilan keputusan. Dan penekanan dalam hubungan antar komponennya adalah hubungan yang serasi, dalam arti terciptanya keseimbangan antara hubungan yang formal dan nonformal, dan ada upaya untuk berusaha memupuk rasa kekeluargaan dan tanggung jawab.
- Kepemimpinan Paternalistik
Tipe kepemimpinan yang ditandai dengan ketidak sinkronan hubungan antara pemimpin dan anggotanya, dimana pimpinan cenderung menganggap bawahan tidak mampu dalam pengerjaan tugas, tidak memberi kesempatan untuk mengembangkan kreatifitas anggotanya, bersikap terlalu over protective, serta kurang memanfaatkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh setiap anggotanya dan kecenderungan menggurui anggotanya.
- Kepemimpinan Karismatik
Kepemimpinan ini mempunyai ciri-ciri terdapat figur sentral yaitu pimpinannya yang mampu memberi pengaruh dan sekaligus mewarnai seluruh anggotanya. Pemimpin karismatik mempunyai kewibawaan yang tidak hanya timbul karena hirarki atau jabatan formalnya, tetapi kewibawaan ini timbul oleh sebab-sebab lain yang biasanya merupakan kelebihan yang biasanya tidak dimiliki oleh orang lain dalam kelompoknya. Bahkan kewibawaan itu tidak ditimbulkan oleh bentuk fisik yang ia miliki, seperti contoh adalah Mahatma Gandhi, Alexander the Great, atau Franklin Delano Rosevelt yang kesemuanya mempunyai bentuk fisik yang biasa.
TEORI - TEORI KEPEMIMPINAN
- Kepemimpinan Menurut Teori Sifat
Teori ini juga biasa disebut traits theory of leadership atau the great man theory. Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki oleh pemimpin itu. Sementara sifat yang dimiliki oleh setiap individu tidaklah sama sehingga menimbulkan banyak pendapat dikalangan ahli.
Menurut Ordway Tead yang dikutip oleh Bintoro Tjokroamidjojo. Terdapat sepuluh macam sifat atau perangai yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu : energi jasmani dan rohani, kepastian akan maksud dan arah tujuan, antusiasme dan perhatian yang besar, ramah-tamah, penuh rasa persahabatan dan ketulusan hati, integritas dan pribadi yang kuat, kecakapan tekhnis, mudah mengambil keputusan, cerdas, kecakapan mengajar dan setia.
Menurut John D. Miller yang dikutip dalam buku yang sama, mengatakan bahwa ada 4 sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu : kemampuan melihat organisasi secara keseluruhan, kemampuan mengambil keputusan, kemampuan melimpahkan dan mendelegaikan wewenang dan kemampuan menanamkan kesetiaan
Menurut Keith Davis dalam bukunya yang berjudul Human Behaviorat work : Human Relation and Organisational Behavior yang dikutip oleh Bintoro Tjolroamidjojo, mengatakan ada empat macam kelebihan yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu : intelegensi, kematangan dan keluasan pndangan sosial, mempunyai motivasi dan keinginan berprestasi yang datang dari dalam, dan mempunyai kemampuan mengadakan hubungan antar manusia.
Ada dua sifat yang perlu dimiliki oleh pemimpin menurut Chester I. Barnard yaitu sifat pribadi yang meliputi fisik, kecakapan, tekhnologi, daya tangkap, pengetahuan, daya ingat, dan imajinasi. Dan yang kedua adalah sifat pribadi yang lebih subyektif yaitu : keyakinan, ketekunan, daya tahan dan keberanian.
Pengelompokan sifat-sifat pemimpin juga dikemukakan oleh Ralph Stogdil yangng terdiri atas lima kelompok yaitu :
- Capacity meliputi : kecerdasan, kewaspadaan, kemampuan berbicara, keahlian, dan kemampuan menilai.
- Achievment meliputi ; gelar kesarjanaan, pengetahuan, keberhasilan dalam olah raga.
- Responsibility meliputi : berdikari, inisiatif, ketekunan, agresif, percaya diri, dan keinginan untuk unggul.
- Participation meliputi : aktif, kemampuan bergaul, kerjasama, dan mudah menyesuaikan diri.
- Statusmeliputi : kedudukan sosial ekonomi dan ketenaran
- Kepemimpinan Menurut teori Perilaku
Teori ini bertolak pada pemikiran bahwa perilaku pemimpin akan sangat mempengaruhi bentuk kepemimpinan yang ia pegang. Oleh karena itu ada beberepa pendapat yang mendasarkan kepada teori ini, yang dapat digolongkan kedalam dua dimensi utama yaitu konsiderasi dan strukstur inisiasi.
- Konsiderasi yaitu perilaku pemimpin yang cenderung kearah kepentingan bawahan (an employee-oriented style) yang mempunyai ciri-ciri : ramah tamah, mendukung dan membela bawahan, mau berkonsultasi, memperlakukan bawahan setingkat dengannya.
- Struktur Inisiasi yaitu perilaku pemimpin yang cenderung lebih mementingkan tujuan organisasi dari pada memperhatikan anggotanya (task oriented style). Ia mempunyai ciri-ciri keketatan dalam peraturan, memberikan standar nilai tertentu atas pekerjaan dan mengawasi seluruh aktifitas dalam kelompok tersebut
Sementara menurut likert seorang pemimpin mempunyai empat karakter dalam kepemimpinan yaitu : otoriter, otoriter yang bijak, konsultatif, dan partisipatif.
Perilaku kepemimpinan yang mendasarkan pada perilaku, kemudian memunculkan teori perilaku kepemimpinan tiga dimensi yang dikemukakan oleh W. J. Reddin melalui bukunya “ What Kind of Manager ” yang menjelaskan ada tiga pola dasar yang dapat dipakai untuk menentukan perilaku kepemimpinan yaitu :
- Beorientasi pada tugas (task orinted)
- Berorientasi pada hubungan kerja sama (relationship oriented)
- Berorientasi pada hasil (effectiveness oriented)
Dari tiga pola dasar tersebut akhirnya dikembangkan menjadi delapan macam gaya kepemimpinan dengan masing-masing cirinya, yaitu :
KURANG EFFECTIVE
|
DESERTER
|
MISIONARY
|
AUTOCRAT
|
COMPROMISER
|
Tidak ada rasa keterlibatan, moral rendah dan suka di ramalkan
|
Mengembangkan, penolong, lemah
|
Keras, keras kepala, bandel
|
Tidak berpendirian tetap, tidak ada keputusan, berpandangan pendek
|
LEBIH EFFECTIVE
|
BUREUCRAT
|
DEVELOPER
|
BENEVOLENT AUTOCRAT
|
EXECUTIVE
|
Patuh peraturan, manusia organisasi, lugu (tanpa tedeng aling-aling)
|
Kreatif, memberi pelimpahan wewenang dengan baik, menaruh kepercayaan
|
Lancar dan tertib, ahli mengorganisasi, besar rasa keterlibatan diri
|
Bermutu tinggi, memberi motivasi dengan baik, berpandangan luas
|
Berdasarkan uraian tersebut mengindikasikan bahwa setiap perilaku kepemimpinan pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan sifat-sifat pribadi yang dimiliki oleh pemimpin itu sendiri.
- Kepemimpinan Menurut Teori Kontingensi ( Situasional )
Teori ini menjadikan sasaranya yaitu identifikasi faktor-faktor penting di dalam situasi dan memperkirakan gaya atau perilaku kepemimpinan yang paling efektif di dalam situasi itu. Sehingga keberhasilan kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh pimpinannya saja, atau dengan kata lain tidak ada seorang pemimpin yang dapat berhasil hanya dengan menerapkan satu macam gaya saja dalam berbagai situasi. Seorang pemimpin akan cenderung berhasil apabila menjalankan kepemimpinannya dapat menerapkan bermacam gaya sesuai dengan situasi yang berbeda, salah satu faktor yang menunjukan adanya perbedaan situasi organisasi adalah tingkat kematangan dan perilaku kelompok.
Ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Paul Hessey dan Kenneth Blancard yang disebut Life Cycle Theory yang menyebutkan bahwa kepemimpinan yang paling efektif adalah kepemimpinan yang disesuaikan dengan tingkat kedewasaan (maturity) anggotanya yang didefinisikan dengan suatu tingkat kemantapan usia atau emosi (age oremotional Sability ).
Selain itu yang perlu diperhatikan dalam teori itu adalah kecenderungan –kecenderungan gaya kepemimpinan didalam menghadapi berbagai variabel situasi (waktu, tuntutan tugas, iklim organisasi, harapan dan kemampuan atasan, teman sejawat, bawahan, sarana pendukung ) berbeda-beda pula. Ada empat kecenderungan gaya kepemimpinan dalam menghadapi setiap tugas dalam situasi yang berbeda yaitu :
- Direktif atau mengarahkan dan memberikan perintah
- Konsultatif atau membimbing dan membantu menjawab permasalahan
- Partisipatif ikut serta dalam setiap penyelesaian tugas
- Delegatif mengakomodasi setiap permasalahan kemudian keputusan ditentukan oleh anggota.